Takkan Kuberikan Rindu

Hingga disini sayang ; takkan pernah ada lagi rindu yang terus menyesakkan dadaku untuk bernafas. Takkan pernah ada lagi sayang berharap seindah khayalan disenja maupun hujan dan dikala malam dan pagi berganti, takkan pernah ada kasih memikirkan kau seorang diri.

Sampai disini sayang ; sampai disini. Dan takkan kuberikan seluruh rindu kepada pria mana saja. Takkan kuberikan seluruh sayang kepada lelaki siapa saja. Jika dahulu takkan pernah kuberikan sentuhan, namun kini tak hanya sentuhan yang takkan kuberikan. Bersama rindu dan sayang sedikitpun takkan kuberikan kesiapapun.

Kecuali kepada dia ; kepada dia yang telah mengikat jiwaku dengan syahadat cinta. Kepada dia yang benar benar membuktikan bahwa bukti cinta ialah pernikahan.

Sampai disini sayang ; telah kututup rapat rapat sebuah hati. Sebelum seseorang membukakan dengan kunci. Kunci yaitu syahadat cinta terikat dengan kesucian Tuhan.

Biarkan saja berikan aku waktu sejenak, untuk lebih banyak berteman dengan air mata dan sepertiga malam. Tentang pilunya mengikhlaskan demi kebenaran. Tentang kokohnya tanpa seorang yang paham. Arti sebuah kesetiaan paling suci. Yaitu kepadaNyalah setiaku tiada akhir.

Iklan

Hati Menanti

Kepada hati menanti , kau tak melulu sendiri ditengah sepi. Menahan rindu dan kalut pada jejak waktu. Berteman dengan sunyi seiring hidup.

Kepada hati menanti , kau tak melulu kesepian . Pandanglah alam sebagai sahabat barumu. Mereka suka menemani dikala burung berkicau pagi, menghangatkan dikala terikmya matahari , merindu dikala senja dan hujan bersatu, mencinta dikala rembulan menjadi mesra bersama langit malam.

Kepada hati menanti , kau bukanlah jiwa yang dingin. Kau masih sehangat senja yang memeluk alam. Menanti kehadiran takdir memutuskan. Bahwa Sang Pencipta masih menyayangimu. Sang pencipta masih merindukan sujud dan lirih doamu. Kau tak sendiri, karena Dia selalu bersama mu.

Jarak Melepas Pergi

Sebuah surat dari segala surat terakhir untukmu …

Kulepaskan kau bersama semilir angin membawa pergi menjarakkan antara kita , biarpun senja yang terlihat adalah sama. Bumi yang menjadi alas adalah sama, saling menatap diantara kejauhan berpisah , tanpa berbicara dalam keheningan bersua.

Sampai disini sayang ; sampai disini kulepaskan kau bagai balon yang mengangkasa indah. Hati berasa terlalu hampa seolah rasa itu hambar kepada siapa saja. Dan kini perjalanan setelah kuberkelana adalah hanya untuk Allah . Hanya kepada Sang Pencipta yang telah Mengatur segalanya.

Hidupku dan duniaku, berserta imajinasi khayalanku adalah hal terindah untukku bernafas. Tak menginginkan sesak rindu mengiris pilu, tak menginginkan bayangan semu selalu datang.

Aku tak ingin menanti pada harapan yang indah, aku tak ingin berharap pada khayalan semu. Sebanyak apa siapa yang datang , aku pun tak menginginkan rasa sebelum ikatan suci itu melintang mengikat.

Dan kupinta kepada Sang Pencipta ; semoga dia nama yang telah terukir diLauhul Mahfudz adalah dia yang mengikhtiarkan dengan perjuangan kembali cinta kepadaNya.

Cukup saja suka kupendam dalam dada, namun tidak rindu dan sayang yang terus tumbuh menyesakkan. Rindu dan sayang takkan kuberikan kepada siapapun , kecuali syahadat cinta itu telah terucap dengan kejelasan.

Namun dengarkan sejenak kisahku , dihari mana sebelum pertualangan kita berlanjut. Menatap laut yang sama, apakah kau ingat? Aku pernah berkisah? Tentang semalam kubermimpi bahwa aku tak diijinkan pergi jauh mendaki bukit bertemu teluk. Dikala itu mimpiku “melarang aku menuju sana” Apakah itu firasat dari Tuhan? Seharusnya aku lebih waspada , bahwa itu juga teguran dari sesak dan rindu yang terus menghunus tajam dadaku. Rupanya kisah yang selembar kini entah kan berakhir kemana. Dan dedoa-dedoa yang telah kuangkasakan kepada langit malam, aku hanya bercurah kepada Tuhan “bahwa aku rindu” namun jarak menyiksa relung .

Jarak yang melepaskan sebuah kepergian seorang, kepada genggaman tangan yang telah berpisah. Dimanapun aku kan berada ; Aku berusaha mengikhlaskanmu dengan sempurna. Mungkin hanya kekuatan doa kita dapat bertemu.

Dan kepergianku semoga menjadi buah kebaikan teruntukmu ; seperti senja yang nampak dalam sekejap. Memberikan hangat sesaat. Namun yakinlah bahwa senja masih suka mengintip lautan, dibalik matahari yang bersinar. Dibalik bulan yang purnama.

Terima Kasih sayang ; hanya itu yang ingin kuucapkan melalui bibir ini. Terima kasih sayang. Aku bukan lah perempuan yang tak menghargai perjuanganmu, terima kasih untukmu seorang. Terima Kasih atas segala kebaikan yang telah kau berikan. Atas segala kasih sayang dan perhatian yang kau limpahkan. Terima kasih atas segala cinta kau doakan.

Dan kepada masa depan 3 tahun kemudian, tepatnya 2020. Mungkin saja jika kau masih memiliki keyakinan ,bertamulah pada tahun 2020. Jika memang Allah mengijinkan kehendak kita untuk bertemu. Kepada 2020 masih menjadi misteri dimasa depan. Pada janji dan sebuah komitmen masih semu terlihat. Bertamulah di 2020 pada hari suci yaitu lebaran. Bertamulah sebagai penanda, bahwa kau masih menginginkan. Bertamu sebagai kode bahwa aku belum menerima dan membuka diri kepada siapa siapa. Dan hanya inilah sebagai pesan terakhir ingin kusampaikan. Jika mungkin saja kau lupa. Atau mungkin kau takkan pernah mengingatnya.

Pulanglah Kakanda!

Aku telah kehilangan arah mengenal sebuah jati diri yang membawaku pergi menuju senja yang berganti kepada malam, Telah buta oleh ketampanan pesona mu yang memikat seluruh rasa. Hingga tak tau arah tempatku mengenal arti kata jati diri. Apa yang sudah kau lakukan kepadaku? Hingga aku benar benar terpedaya dengan cinta yang tanpa dasar alasan. Tiada ketentraman terpatri dihati.

Kumelangkah tertatih menuju lika liku jalan buntu, tak seorang pun paham arti sesungguhnya rindu terus terpahat hingga tanpa kenal kata sudah. Dan tiada ujung rindu terus mengalir bagai sungai yang sangat panjang . Entah kemana jalannya arah kehidupan yang kini telah terbutakan oleh cinta.

Kakanda ; kau telah menghilang pergi bersama senja yang tenggelam. Tanpa meninggalkan jejak jejak kenangan. Kecuali rindu hanya tersisa di ruang hati adinda. Kakanda ; biarkan saja adinda terus menanti kepergianmu, hingga kau pulang memberikan sebuah kepastian . Berpulanglah menuju hatiku. Hati yang menyukai sepi diujung temaram yang berlaku. Pulanglah kakanda ; menuju hatiku. Mengetuk pintu rumahku dan mengajakku berlabuh dibahtera kehidupan bersama. Pulanglah kakanda ; setelah kepergianmu yang terus hilang. Kemari, peluk ragaku yang haus akan setiap perhatian dan kasih sayangmu.

Karena namamu telah terukir rapi , sedalam rasaku tiada bosan menanti sebuah harapan kan berwujud kepada doa doa. Pulanglah kakanda ; hingga kau menetapkan dari seluruh penjelajahanmu hanya kepadaku saja. Menjadikanku sebagai teman hingga jiwa kita terus berkenalan tanpa kenal kematian.

Pulanglah kakanda , tanpa kenal pergi dan menghilang lagi. Bukan kah adinda sudah usahakan untuk menjadi yang terbaik tuk engkau. Menjadi yang tercantik dan yang paling memikat untuk engkau kakanda. Menjadi yang paling menyenangkan hari – hari mu , dan menjadi yang paling berharga karena perisai adinda tetap setajam samurai. Tanpa seorang lelaki pun pernah menyentuh adinda. Pulanglah kakanda ; dari perlabuhan yang sangat panjang , dari hari hari yang sangat jenuh. Biarkan adinda jamu kakanda dengan secangkir kopi bersama beberapa kue buatan adinda. Biarkan adinda mengantarkan jamuan teruntuk kakanda dengan pakaian tercantik hingga mata kakanda terus menatap adinda dengan hati yang tentram. Kemudian mari kita menikmati senja bersama kopi dan  beberapa kemesraan setelah kakanda benar benar menjadi teman hidup adinda

Menuju ku

Tuan; apakah rindu selalu kejam? Menghunus seluruh rasa tanpa ampun. Menyiksa seluruh batin dan beberapa pikiran hingga jenuh. Aku takkan bisa menyamai arti kata rindu sesungguhnya: kecuali jika rindu itu terobati dan terbaluti dengan beberapa pertemuan dan perbincangan diantara kedua insan.

Nasihat orang dahulu ; obat rindu adalah pertemuan. Obat cinta adalah pernikahan, dan kini waktu selalu berbisik melalui suara hati “belum saatnya”. Namun hati suka sekali tersiksa dengan perihal cinta yang masih belum terobati.

Disini nona perindu hujan yang suka menanti di dermaga sunyi bersama senja yang berganti malam, senja yang membawa basah seluruh bumi. Senja yang selalu bergandeng mesra bersama hujan. Dan apabila ia merintih dalam sepi, namamu tuan. Namamu yang berbisik dalam lirih keheningan. Berkali kali ia menyebut namamu. Dan masih menyimpan rapih sebuah kenangan.

Berkali kali ia membuka kenangan yang tersimpan rapih dikotak memori. Berkali – kali sebelum tidurnya selalu tak nyenyak, hanya sebuah foto yang ia pandnag. Agar sedikit saja ketenangan dari siksanya rindu tersampaikan. Berkali kali ia menulis diary  disebuah buku hingga lega seluruh rasa. Namun ini masih tak dapat tergantikan. Dan berkali-kali air mata mengalirdari pelupuk matanya mengingatkan kamu seorang .

Kurasa sang nona mulai terpedaya oleh cinta yang tak beralasan, oleh rindu yang tak berujung, oleh pilu yang selalu menusuk relung hati. Hingga dia sangat sangat ingin menyepi dalam kesunyian. menghabiskan waktu dengan penantian. Berakhir pada kau tuan, segeralah datang menujuku (nona). Segeralah habiskan waktu bersamaku! Segeralah melangkah kepada nona perindu hujan. Jika kau telah siap dengan segala kepastian. Segeralah dengan keyakinan!

 

Perempuan Idealis

Sayang ; biar kukenalkan kau pada perempuan yang begitu kokoh dan idealis kepada prinsip prinsip hidupnya. Terutama prinsip dalam dunia asmaranya. Mimpinya adalah kesempurnaan, mendambaan pangeran dalam hidupnya. Seolah dia adalah cinderella yang dibebani perihal beberapa beban dan ujian dihidupnya. Namun sungguh, dia masih mendambakan ciuman pertamanya dihari pernikahannya, layaknya putri putri dongeng.

Dia telah menolak banyak pria dihidupnya, bukan berarti dia tak pernah jatuh cinta. Namun waktu berbisik melalui gendang telinganya. Bahwa belum saatnya seseorang menjadi pangeran dihidupnya. Kini dia tengah memperbaiki beberapa kesalahan dan membuatkan dirinya semakin tegar dari ujian kehidupan.

Biar kukenalkan ; kepada perempuan idealis. Yang telah menolak banyak pria. Menyakiti banyak pria, sangat sangat sulit ditaklukkan. Kecuali dengan keimanan dan keseriusan menjadi teman didunia dan akhiratnya. Dengan pikirannya yang tak ingin menjaddi barnag “bekas” suatu saat nanti, selalu menjaga kualitasnya.

Biar kukenalkan ; kepada perempuan idealis. Yang sangat memiliki perbedaan jalan pikiran kepada wanita wanita lainnya. Selalu memikirkan kehidupan yang ia jalani, mewujudkan keinginan dengan ambisi dan ketekunan. Menjadi diri sendirinya dihadapan semua orang. Begitu keras kepala seperti yang ia kenal, selalu menginginkan keadilan dalam kehidupannya.

Biar kukenalkan ; kepada perempuan idealis  . Yang selalu menutupi kesedihan , menampakkan kebahagiaan dihadapan semua orang. Paling pantang meminta suatu hal, dan selalu berambisi menjadi yang terbaik diantara yang terbaik. Berharga diantara yang berharga . Namun ia masih jauh dari kata sempurna dan cantik.

Biar kuperkenalkan kepada perempuan idealis ; yang selalu menginginkan kehidupan nikmat menjadi seutuhnya wanita. MImpi menjadi sebaiknya wanita, secantik-cantiknya ia dimata TuhanNya termasuk dimata yang ia cintai.

Biar kuperkenalkan kepada seorang perempuan ; yang begitu menyukai dan tergila gila kepada kecantikkan, apapun ia usahakan . Tak hanya mempercantik keindahan parasnya, namun juga mempercantik hatinya dan berusaha menjaga yang “berharga” pada dirinya. Dia hanya memimpikan dirinya secantik bidadari, dengan keindahan paras yang memikat, hati yang cantik, iman yang cantik , selalu bermukim ditempatnya dan tak pernah tersentuh olehpria manapun. Namun selalu mencoba memperbaiki dari seluruh ketidaksempurnaannya. Karena ia tau yang cantiknya kekal hanya wanita shalihah.

 

 

Bekas Pena

Dan aku hanya meninggalkan bekas aksara kurangkai melalui kata kata nan indah. Yang ku tau ; semakin banyak aku menulis semakin lega seluruh rasa bergejolak membara . Membakar seluruh emosi hasrat hingga tiada habis kata kurangkai melalui tasbih tasbih puisi.

Sajak ; menjadi teman terbaikku untuk bercurah bersama pena dan kertas yang masih bersih mengisahkan perihal kamu seorang.

Dan entah ; sebanyak apapun aku mengukir sebuah puisi diatas hamparan kertas putih. Sepuas itu seluruh gejolak terluapkan melalui bahasa membisu diantara ribuan bincangan.

Biarkan saja jika kau berperan menjadi tokoh utama dalam skenario kuukirkan disebuah kisah. Biarkan saja jika kau menganggap , mungkin aku belum mampu mengikhlaskan sebuah nama. Masih melekat erat terbayang dalam pikiran disetiap waktu.

Caraku indah melepaskanmu tuk memerankan sebuah kisah yang terjadi. Jika mimpi dan khayalan begitu indah untukku hidup. Aku mampu tuk menghabiskan hari bersama dunia imaji tak seorang pun tau. Kuinginkan kisah hebat dalam skenario KehendakNya.

Bahasa nan indah adalah aksara terangkai menjadi sajak sajak mempesona , disini sayang aku melukiskan seseorang. Membayangkan seluruh mimpi , dan imaji ku terkadang melambung memainkan sebuah peran.

Bekas inilah kutinggalkan , bekas pena masih membekas diatas hamparan kertas putih. Termasuk kepada bekas rasa tiada henti bergejolak disetiap saat. Karena dengan ini, hanya Tuhankulah yang tau. Sebanyak apa aku mencintainya. Dan sebanyak apa aku merindukannya.

Rindu dan cinta racikkan pas untuk rasa. Dan mereka masih belum menemukan tuan yang disayanginya. Mereka hanya berkelana bersama pena meninggal kan bekas aksara tiada henti terukir menjadi bait bait puisi nan indah.

Nona Perindu Hujan ; Menanti

Ketika waktu terdiam membisikkan kesunyian kepada jiwa yang sepi, menanti sebuah kepastian yang seharusnya tak dinanti. Menunggu seseorang yang seharusnya tak ditunggu dan mengharapkan sebuah jawaban yang seharusnya tak diharapkan. Segalanya samar samar tanpa bisa kuterka suatu kejelasannya.

Selalu saja aku berfikir tuan ; apakah kau masih sering memikirkan nona perindu hujan ini? Selalu suka menyepi diantara ribuan keramaian. Apakah kau masih menginginkan dan mendambakan nona ini? Sedangkan sifatmu kini dingin membeku sepilu hati nona .

 

Aku bisa saja membawamu pergi, menuju cakrawala diluar batas nalar kewajaran manusia. Membahagiakanmu dengan keindahan parasku yang begitu memikat, hingga waktu lampau ke masa kini kau tetap memuja kecantikan sang nona perindu hujan.

Bahkan di setiap rintikkan air hujan turun, dia masih merindukan sesosokmu tuan. Sosok ragamu yang begitu memikat seluruh panca inderanya, hingga nona kehausan akan setiap perhatian dan kasih sayangmu.

 

Cinta nona perindu hujan ini, begitu hebatnya. Dia menyamakan dirinya kepada hujan, yang suka datang dan pergi memberikan jejak jejak basah pada bumi. Dan beberapa orang merindukan ketenangan serta kenyamanan darinya, dari seluruh pilu yang pernah ia rasakan.  Kata “rindu” itu masih melekat tanpa tergerus arti kasih sesungguhnya.

 

 

 

Sebuah Surat ; Aku untukmu

Dalam semilir rindu terbawa oleh kencangnya alunan sajak doa kupanjatkan kepada Sang pencipta, berharap kau baik baik saja disana dengan keimanan yang semakin kokoh setiap harinya. Dan apakah ini adalah skenario Tuhan yang telah menakdirkan beberapa perpisahan diantara kita.

Namun harapku adalah, semoga kau menjadi seorang pria sholih dan semoga Allah selalu mengarahkan kehidupanmu kepada kebenaran dan keimanan yang DiridloiNya.

Walaupun hingga pada akhirnya entah siapa dahulu yang akan bertamu mengetuk pintu rumahku, mungkin bisa saja aku menggantungkan beberapa mereka dengan penantian hingga kau datang menjadi seorang pria dewasa dan sholih yang begitu memikat seluruh rasa.

Dan aku takkan pernah meragu oleh keyakinan doa karena kebahagiaanku telah diatur oleh Sang Pencipta yang sedari dahulu kunanti hingga dipertemuan kini, ku tetap memperbaiki.

Mungkin mimpiku pada nurani terdalam, hanya sekedar menjadi sebaik baik wanita untukmu saja. Tentu saja hanya untukmu yang kelak kan melintangkan sebuah ucapan syahadat bersama orang tua kita membentuk ikatan suci kepada Sang pencipta.

Menjadi yang terbaik untukmu, yang takkan bisa kau dapatkan dari wanita manapun kau menemuinya. Dan yang paling teristimewa letaknya dalam sisi sudut hatimu. Hingga takkan pernah mampu seorang wanita menggantikan posisiku di ruang hatimu.

Karena aku hanya ingin berbisik, Inilah aku sayang ; aku dan seluruh aku yang berusaha menempatkan posisi teristimewa setelah cintamu kepada Allah.

 

 

Nona Perindu Hujan

Panggil aku nona ; sang nona perindu hujan. Menanti dalam semilir angin berhembus bersama daun terbawa menuju arah hujan itu tiba. Menunggu setiap rintikkan murni datang tuk melunturkan seluruh pilu dalam relung terdalam

Panggil saja aku nona perindu hujan, menanti setiap rintikkan datang. Melunturkan seluruh noda noda hitam. Memudarkan seluruh pilu dan sendu bersemayam . Di dalam sini sayang : dalam kalbuku yang memerih tiada balutan obat tuk tersembuhkan.

Panggil aku nona perindu hujan , tiada henti ingin mendekap seluruh hujan . Merindukan seluruh ketentraman terselip diantara ribuan titik titik air yang jatuh. Memelukmu dalam sunyi, mendekapmu dalam rindu. Meninggalkan bekas ciumanku dalam hujan yang tak kan dapat terlihat lagi.

Dalam Pelukan Hujan adalah Senja

Tak mengapa jika kini aku mulai berbincang kepada hujan, dalam rintikkan yang menyejukkan seluruh rasa tersejuk berada dipelukan ketenangan hujan. Biarkan saja jika ku mendamba raga sang hujan, memeluk erat seluruh gairah sang hujan. Dalam ketentraman terdalam hingga tiada seorangpun tau bahwa sayangku masih sejernih tetesan air hujan. Membumi basahkan seluruh kehidupan.

Karena senja sudah tiada berarti lagi, karena senja hanya sekejap nampak dan kembali. Karena senja hangat dalam tentram sang pemilik ibu pertiwi. Pelukkan sang senja merintihkan resah kesana kemari, nampak sifat datang dan kembali. Melukiskan siluet garis wajah sang kekasih. Dihari yang sama kuinginkan hujan berdamailah kepada senja.

Biarkan kalian saling memadu kasih diantara cakrawala sang bumi, berbaiklah kepada alam. Biarkan kalian saling mengeratkan sebuah doa melintang pada garis khatulistiwa. Bersatulah dalam maaf, dikediaman tersunyi pada lirih doa terdalam. Lupakan seluruh pilu yang kini mulai luntur bersama setiap rintikkan hujan dan pudar bias cahaya sang senja. Hingga angin semilir menggemakan syair syair doa kepada sang pencipta. Menyatukan kepada kebaikan hujan dan senja. Kalian berdua berbahagialah!

Sebuah surat : Usaha Melepaskan Rindu

Jujur saja sayang ; kau takkan pernah mengetahui sesering apa aku mengingatmu. Dalam kepalaku hanya ada kenangan dan ingatan saja . Biarpun tanpa hadirnya dirimu, kau adalah sesosok raga yang terus muncul dalam pikiran. Entah tiada arti untukku bertahan. Sampai kapankah kau terus bertamu tanpa diundang. Terus mengetuk pikiran pikiran yang melayang. Tanpa hadirmu yang nyata. Kau masih sangat berarti dalam semu.

Rindu ini masih melekat erat disetiap ku mencoba memaksakannya untuk menghilang, namun benar benar terasa sangat berat hingga detik ini tanpa kehadiran dirimu aku masih tetap merindu . Ini lebih sulit karena tentang kenangan yang sangat sangat sulit untuk kulupakan. Tak semudah itu aku melupakan.

Bahkan lagu lagu yang telah mengalun sempurna dengan nada nada indah itu, benar benar menyiksa dan meninggalkan jejak rindu. Iya lagu itu, lagu yang disaat lalu kau nyanyikan teruntukku. Sayang ; seandainya kau benar benar ada disisiku. Benar benar menjadi ikatan halal ku. Benar benar menjadi teman hidupku, aku sangat ingin membahagiakanmu . Sangat sangat ingin mengisi hari harimu dengan tawa dan canda diantara kita.

Kau selalu ada , meskipun aku telah mencoba untuk membinasakan seluruh bayanganmu. Namun kau selalu hadir dalam benakku. Rasa ini takkan pernah bisa pudar, dan entah dengan cara apalagi aku melupakanmu. Kau masih saja ada dalam kalbu. Sekuat apapun aku membenci, benci itu mudah pudar tergantikan oleh rindu.

Hingga kini aku kehilangan cara untuk membebaskanmu, sedangkan hatiku selalu merasa dekat bersamamu.

Karena rindu ini masih terukir dalam di detakan jantungku, Kau selalu bertamu membawa rindu keruang hatiku. Karena rindu yang kau bawa takkan pernah menghadirkan sepi dalam benak dan khayalan.