Dear Ramadhan  #21

Setenang air yang mengalun bersama daun dan embun di aliran sungai jernih yang suci,  kini hari ramadhan telah memasuki sepuluh terakhir bulannya.  Sungguh ada sebongkah kebahagiaan yang tercipta dari kalbu ini ada sesuatu yang dinanti dibalik perempuan sendu ini,  ada sesuatu yang takkan pernah bisa dijelaskan oleh sejuta aksara biarpun aksara telah mengisahkan berbagai rasa yang terus menjadi saksi akan akhirnya cinta.  Namun,  ramadhan jangan cepat cepat pergi dari detakan nadiku kini.  Aku masih menyayangi bulan ini,  bulan penuh kebaikan dengan berjuta ketenangan. 

Bahkan sampai sekarang pun,  sang pria berbaju jingga yang  selama ini dinanti du ujung senja.  Menanti suara merdunya disetiap malam,  menggemakan lantunan lantunan indah untuk Rabb-Nya,  yahh kurasa perempuan ini telah jatuh hati dengan isak tangis dan rindu akan dirinya.  Namun dia sang pria yang hanya mengacuhkannya bahkan telah diam seribu bahasa tuk membuktikkan apakah yang kan ia capai. 

Taukah ramadhan,  sajakku diam diam menyelipkan seserpih doa untuk nya,  menitipkan seluruh rindu dan segenap cinta untuknya.  Namun, ku teringat akan kisah siti zulaikah dan nabi yusuf yang kukira adalah roman yang begitu indah. Tentu saja memang indah,  ialah sejarah yang telah dituliskan oleh sang Rabb melalui kalam kalamnya dan semesta menjadi saksi akan kisah mereka.  Ketika siti zulaikah mengejar cinta yusuf,  Allah memberikan ujian bahkan menjauhkan zulaikah dengan yusuf,  namun keadaan berbeda ramadhan.  Ketika siti zulaikah mengejar cinta Rabb-Nya,  Allah menjodohkan mereka berdua atas kehendaknya.  Karena  sesungguhnya nya hanya ialaha Yang dapat menjodohkan kedua hatinya,  membolak balikkan rasa kepada setiap makhluknnya. Sungguh aku terpana ramadhan,  terpana oleh kesetiaan zulaikah terhadap Rabbnya.  Tiada kisah cinta lebih indah melainkan apa yang telah Rabb ukirkan dialam semesta ini. 

Cukup disini ramadhan,  kisahku tak sepanjang novel yang kau inginkan. Namun hanya sebata sajak bahkan surat pendek yang telah ku ukirkan. 

Dear Ramadhan #20

Ahhh kini sudah memasuki sepuluh malam terakhir rupanya,  aku dan raga ku ini yang suka memeluk senja di ujung jingga ketika kumandang adzan terlantunkan oleh suara merdunya sang pria berbaju jingga, merasakan sebuncah kesenangan yang muncul melalui sanubari insan yang lemah ini.

Hai ramadhan,  bukankah janjiku adalah berusaha tuk memperbaiki setiap keburukan yang kumiliki,  terutama di sepuluh malam terakhir ini merupakan malam malam penuh dengan keajaiban yang takkan bisa diramal oleh peramal manapun.  Bahkan aku tak percaya sebiji pun perkataan peramal yang katanya tentamg jodoh cinta harta dan takdir.  Sungguh tak ada sedikit pun bibit kepercayaan yang dapat kutuai oleh kata kata peramal itu ramadhan. 

Yang kutau disetiap detik rasaku masih berdesah mengukirkan dia yang kucinta dengan segenap rasa dan sebongkah kerinduan yang menghujam.  Hanya namanya yang ku ukir di hati ini,  hati yang masih berkerak oleh lumpur lumpur dosa.  Yaa Ramadhan, harapan terbesar ku adalah aku bersama nya, namun dengan dia yang bisa membawa dan mengarahkan hidupku menuju jalan kebaikan. Cukup sederhana ramadhan,  aku tak memiliki cita cita setinggi wanita wanita lainnya yang katanya ingin menjadi seorang wanita karir ataupun model, artis dan sejenisnya.  Cukup sederhana ramadhan,  menjadi seorang wanita yang bisa menyenangkan hatinya disetiap dia masih bernafas. Menjadi pencetak generasi generasi kuat dan hebat darinya.  Cukup sederhana ramadhan,  menjadi sebaik apa itu seorang istri dan ibu. Dengan begitu raga perempuan ini merasa sempurna tuk hidup dengannya.  Hanya dengan nya ramadhan. 

Sampaikanlah surat rinduku melalui sajak sajak doaku yang telah kutitipkan kepada malam yang suka bersemayam bersama bintang bintang dan temaran bersama rembulan  disepertiga malam ku mendoakannya. 

Dear Ramadhan  #19

Hai ramadhan,  kini dimalam kelam yang temaram dan sunyi yang mengalun bersama dinginnya angin malam,  sesosok jiwa yang merindukan sepi dari keramaian setiap detik yang menghujam.  Sungguh aku masih bertanya tanya siapakah pangeran sajak yang kukenal,  siapakah pangeran dengan suara merdunya yang kukenang, siapakah dia yang telah menggejolakkan hati ini.  Aku masih tak paham,  dengan dia dan pria berbaju jingga yang selama ini kunanti.  Ada 2 diantara mereka sama sama bersuara merdu,  namun sang pangeran suka menyanyikan sajak sajaknya yang telah ia rangkai bersama puisi puisi sendu di ujung kerinduan entah siapa yang ditunggu. 

Namun pria berbaju jingga suka memerdukan suaranya dengan lantunan mantra mantra suci Tuhan di istana ibadah ataupun dikala nafasnya masih berdesah disepertiga malam.. Ramadhan,  bukankah baiknya kumemilih sang pria berbaju jingga daripada sang pangeran yang hanya bisa membawakan kesenangan. Hal itulah ramadhan,  yang selama ini terus menggundahkan seluruh rasaku dan terus menderu bergelisah diujung rindu. 

Hingga aku lupa untuk caranya mengenang akan kehadiran semunya yang kutunggu diujung waktu yang telah ditentukan nya.  Apa yang harus kuperbuat ini ramadhan?  Akankah kau masih membisikkan sajak sajak cintaku kepadanya.?  Sudah selama sedekade lamanya aku masih yakin bahwa ialah adalah seserpih dari jiwaku yang hilang. Kini aku sudah tak berhak untuk memilih lagi ramadhan. Aku telah berpasrah kepada rindu dan waktu yang menjanjikan sesuatu arti disetiap selipan aksara aksara yang telah ku ukir melalui tinta air mata kepada lembaran doa yang kupinta disetiap aku tak bisa menahan segalanya. Semoga Tuhanku masih menyayangi ku dan memberikan hal terbaik untukku dan untuknya. 

Dear Ramadhan  #18

Hai ramadhan,  baru tadi malam rasanya dia menghampiri diriku dalam bunga tidurku yang masih semu,  entah ini sudah keberapa kalinya diri ini dan benak ini memimpikan dia seorang dan berharap dia benar benar ada dihadapan.  Entah sudah keberapa kalinya,  dalam imajinasiku yang semu dia jatuh kepelukanku dan entah sudah keberapa kalinya kecupan mesra yang kunanti hanya berwujud dalam bunga tidurku. 

Ramadhan,  aku benar benar merindukan jiwanya dan sebagian kepribadiannya.  Sampaikanlah segenap rinduku melalui pesan pesan yang telah kutitipkan kepada sepertiga malam dan kubisikkan sajak sajak doaku hanya kepadaNya. Biarkan Tuhan yang menghendaki hatinya entah dia berpaling atau menoleh kepadaku.  

Dan tak terasa sudah 18 hari kau menemaniku membuat aksara aksara ini Ramadhan,  yahh hanya kau yang menemani raga ini bahkan nyawa ini dalam kegundahan tiada ujungnya. Kaulah yang setia ramadhan,  selama satu per saty kawan kawanku mulai sibuk dan meninggalkan pribadi ini,  mereka mulai sibuk dengan kegiatan kegiatan mereka.  Namun kau ramadhan,  kau lah yang menjadi penyemangat ku tuj mengukirkan sebuah rasa kepada lembaran lembaran semu yang hanya bisa mengitari benak dan ilusi ku dan suka bermain tentang seni aksara sedari dulu diri ini masih belum menemukan sepasang jiwa yang telah terpisah lamanya. 

Cukup disini,  diharu ke delapan belasku tuk menjalankan ibadah puasa.  Ramadhan, jangan lupa salamku kepadanya. 

Dear Ramadhan #17

Hai ramadhan,  tak terasa kini adalah hari ke 17 kau masih tetap menemani sesosok jiwa peremphan ini yang penuh dengan keluh kesah akan dirinya dan kehidupannya tiada kejelasan menentu. 

Ramadhan, kusampaikan sebuah kisah pendek kepada kau tentang sesosok pria berbalut baju jingga yang sudah satu dekade lamanya sang perempuan ini menantinya tuk kembali kepelukannya.  Menantinya dipertemuan tuk melepaskan segala kerinduan yang menghujam. 

Aku tak tau apakah ha ini pantas disebut sebuah kisah atau tidak,  tapi yang aku tau hanyalah sebuah rasa ini yang terus tumbuh bahkan dimana pun jiwa ini tinggal tentunya hanya berharap kepada dia yang tidak memiliki sedikit saja kepedulian,  bahkan nilainya sebagai teman tidak sedikit saja menoleh dan melihat ada sesosok jiwa yang suka menyepi di ujung tepi kerinduan menanti dia tuk melihat segenap cinta yang sudah lama tumbuh nya. 

Ramadhan,?  Apa yang harus dilakukan perempuan ini,  Akankah sang perempuan ini menerima lamaran orang lain sedang pria yang dia nanti tidak sedikit saja peduli tentang hatinya dan rasanya yang selalu berkorban untuknya.  Aku telah menulis panjang surat cinta untuknya namun yang ku tau dia hanya tetap diam seolah tak mengerti yang dimaksud.  Kadang perempuan ini berfikir,  dia begitu bodoh atau begitu tidak peduli nya tentang kehadirannya dalam hidupnya. 

Aku sudah tak mengerti lagi ramadhan,  aku hanya bisa mendoakan nya disetiap kali kerinduan ku membuncah untuknya.  Tiada sepercah harapan yang dapat kulihat karena aku dan akhir kisah yang kukira seperti habibi dan ainun ini akan berujung kepada kepiluan dan kesenduan yang tak terkira.  Mungkin sudah waktunya ramadhan,  sang perempuan ini membukakan hatinya tuk pria yan mengaku telah mencintainya bahkan berencana segera meminangnya dalam waktu dekat ini. 

Dear Ramadhan #16

Lihatlah kini aku telah melihat setitik cahaya terang melalui kehidupannya,  aku begitu senangnya setidaknya pria berbaju jingga telah terarah menuju kehidupan yang dia fikirkan. Yahh bahkan aku melihat sepercah harapan kebaikan darinya ramadhan,  aku telah berharap dan mendoakannya semoga kehidupannya selalu terarah menuju kebaikan. 

Setidaknya ramadhan,  aku masih bisa menghirup wangi khasnya dan mendengar suara merdunya. Dia yang selalu melantunkan nada nada indah dengan syair syair suci yang telah Tuhan ukir di alam semesta.  Setiap istana ibadah yang dia kunjungi,  telah menjadi indah dan begitu memukau dengan kehandalan suara yang dia miliki.  Seorang pria berbaju jingga yang kurindukan kemerduan gema nada indahnya a dan suka bercengkerama kepada petunjuk hidup ajaib melalui lembaran lembaran suci yang telah Allah sampaikan kepada seorang manusia suci ialah utusanNya. 

Aku yakin,  semakin ku kejar cintaNya.  Dan kupasrahkan segenap rasa yang telah meluruhkan seluruh kerinduanku menjadi sebuah cinta.  Telah kuserahkan kepada Dia sang pemilik cinta. 

Dear Ramadhan  #15

Kini aku benar benar jenuh di tengah tengah  kerinduan yang membuncah namun semu tuk kukecup kehadirannya yang tak begitu berwujud. 

Ramadhan,,  aku harus apa dikala pria yang kurindukan terus acuh dan membiarkan diriku tuk di incar pria pria lainnya. Aku adalah bunga yang selalu dikelilingi oleh ribuan kupu –  kupu,  namun aku tak menantikan satu kupu kupu yang datang.  Yang kunantikan adalah seekor lebah yang sedari dahulu kukenal. 

Sampaikanlah salam rinduku yah ramadhan kepada pria berbaju jingga yang selama ini tela kunanti nanti dan selalu kusebut dirinya dan namanya kepada Allah yang Maha Membolak balikkan hati manusia. 

Aku tak berharap kepada dia ramadhan,  tapi aku berharap sedikit saja kepada kehendak Nya. Agar Allah mengendalikan hatinya tuk menoleh kepadaku sedikit saja,  peduli kepada perempuan sendu ini yang selalu bertopeng senyum kepada seluruh manusia. 

Dear Ramadhan #14

Hai Ramadhan,  kini ceriaku telah pulih kembali akibat kau yang terlalu cepat memberikan harapan datangnya sebuah hari yang sekian lama telah kunanti yaitu indukmu Ramadhan ialah Idul Fitri,  tak terasa aku masih menanti diriku dipenghujung waktu tuk pulang kepangkuan keluarga yang kurindukan disana. 

Betapa cepatnya kau bermesra kepadaku di Ramadhan yang begitu hangat penuh dengab kebaikan ini,  aku masih merindukan mu ramadan.  Jangan cepat cepat pergi dari hidupku. 

Setelah kunanti tiba datangnya dirumah selama sebelas bulan lamanya. Aku telah tak sabar merindukan sesosok pria yang selalu kusebut namanya ke dalam nafasku yang masih bergelora dan kurindukan suaranya menggemakan lantunan lantunan syair indah milik sang pencipta. 

Dear Ramadhan  #13

Disini aku telah menyudut di tepi dermaga hatiku yang suka merindukan sesosok pria berbaju jingga,  dengan suara khasnya yang melantunkan ayat ayat suci.  Gema gema nada indah nya begitu membuat jantungku berdebar debar ketika dia dengan khusuknya melagukan mantra mantra suci Tuhan yang disampaikan melalui desauan angin dengan nada nada indah menyerupai kemerduan yang suka muncul laksana kicauan burung terindah yang pernah kudengar. 

Ramadhan,  dia adalah simponi dalam hatiku,  lantunan yang dia gemakan dengan alunan nada yang selalu bermesra kepada kesucian aksara aksara yang telah diciptakan-Nya melalui kitab yang begitu suci memunculkan seribu bahkan jutaan pelajaran hidup untuk manusia. 

Ahh aku rindu mendengarkan dia menyanyikan mantra suci Tuhan kepada malam temaram yang bersemayam dipenghujung kekelaman dan hitam suasananya.

Dear Ramadhan #12

Disini aku masih tetap sendiri,  tak seseorang pun menemani raga ini yang suka menyendiri dalam kebisingan yang suka meniti dalam kerisihan dan suka menyudut ditepi ujung kerinduan.  Kecuali ramadhan yang menemani dan dihari ke dua belas lalu aku terbaring lemah dengan ragaku yang begitu lemas tak berdaya,  itu semua karena seseorang. Yang kukira dia adalah pria berbaju jingga namun kini dia tak menggunakan baju jingga lagi,  tetapi yang digunakan adalah baju hitam menandakan dirinya tak dapat kulihat dalam kegelapan yang begitu temaram. 

Yahh walaupun sayup sayup ku mendengar kumandang ramadhan yang menenangkan,  namun dia dan suaranya sudah tak dapat kudengar lagi bahkan bisikannya yang begitu dirindukan sudah tak berjejak lagi. 

Beginilah ramadhan,  sampaikan kepadanya bahwa aku masih menanti kehadiraannya kembali. 

Dear Ramadhan #11

Tak terasa sudah 11 hari kau menemani ku dan menemani setiap insan yang hidup di bulan yang penuh keberuntungan ini,  aku tau aku adalah perempuan dengan segala kekurangan.  Tak sesempurna seperti terlihatnya,  masih banyak yang jauh lebih baik dari diri ini.  Tetapi Ramadhan,  aku ingin minta sesuatu.  Temani aku tuk memperbaiki tentang keburukan diriku.  Tak hanya diramadhan ini,  namun hari dan bulan biasa pun.  Aku masih ingin merasakan tenang tenangnya dan baik baiknya kebaikan semua manusia dibulan ini,  bulan yang penuh cinta dan perhatian untuk sesama.  

Ini adalah surat pendek yang kutulis untukmu ramadhan,  aku tak tau mungkin aksara yang telah kurangkai ssdemikian seperti ini tak kan pernah sebanding oleh para sastrawan dan penulis terkenal lainnya.  Karena aku hanyalah baru merangkak didalam dunia sastra ini.  Seni permainan kata yang kucoba tuk membuat suatu karya teeindah sebisaku semampuku.  Namun tiada kata sempurna ramadhan,  kecuai kalam kalam yang telah Dia ukirkan pada alam semesta.  

Cukup disini ramadhan,  aku tak ingin bertele tele tuk menuliskan surat pendek untukmu,  tapi malamku ini hanya ingin berbincang kepada rembulan bercurah tentang dia dan masa depan yang kan kugenggam.  

Dear Ramadhan #10

Sudahlah, ini Ramadhan jangan samakan dengna hari biasa lainnya.  Daripada terus berghibah dan mengeluh.  Coba perbaiki diri sendiri,  sucikan hati luruskan pikiran dan niat. Buanglah segala pikiran pikiran negatif yang suka menggoda. Jadilah pribadi lebih baik lagi,  tebarkanlah senyuman laksana sehangat mentari yang suka berbagu sinarnya di dunia. 

Tak perlu melihat orang lain,  dan membandingkan diri dengan orang lain.  Itu takkan ada habisnya.  Hiraukan segala hinaan bahkan remehan orang lain,  karena mereka takkan pernah tau pengalaman sesungguhnya yang kau rasakan. 

Cukup jadi diri sendiri dan berusaha memperbaiki diri,  berjuang untuk masa depan.